Logo

036341250

  • Om Swastyastu, Selamat Datang di Website Resmi Desa Nyuhtebel, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem
Jumat Pon
Baca Artikel

Keunikan Pebarisan Usaba Desa Nyuhtebel

Oleh : nyuhtebel | 17 Februari 2017 | Dibaca : 248 Pengunjung

Usaba Desa Nyuhtebel dilaksanakan pada sasih kalima (berdasarkan kalender Bali lokal,). Makna hari usaba desa di Desa Pekrama Nyuhtebel antara lain melaksanakan ritual upacara adat Agama Hindu dewa yadnya, dimana pada hari usaba desa itu tuhan dengan segala manifestasinya turun ke bumi menganugrahkan kesejahteraan bagi umat manusia disebut juga "Betara Turun Kabeh". Pada hari usaba desa yang berlangsung selama 5 hari, betara sebagai manifestasi tuhan distanakan di palinggih-palinggih yang terletak di Pura Puseh dan Bale Agung.

Dua bulan menjelang dilaksanakan usaba desa, warga desa diwajibkan menjaga situasi lingkungan desa yang damai, tenang, dan gembira/senang. Oleh karena itu masa tenang ini disebut sebagai "Sasih Miik" maka mulai memasuki sasih ketiga hingga berakhirnya sasih kelima (perhitungan kalender Bali) di lingkungan Desa Pekraman Nyuhtebel warga desa dilarang melaksanakan upacara ngaben/upacara berduka.

Pada hari usaba desa, pada hari yang ke 4 dari 5 hari prosesi usaba, ada yang disebut hari " Pebarisa Usaba" (warga berbaris mengelilingi batas-batas desa dengan mengusung pretima/sarana manifestasi tuhan sebagai betara/betari diiringi para pengiring niskala Ide Betara/Betari yang disebut dengan nama "wewalen". Jumlah wewalen telah mencapai kisaran 30 an wewalen).

Perjalanan suci pebarisan usaba ini dimulai dari Pura Puseh pukul 11.30 wita menuju Pura Dalem yang terletak di batas selatan desa lanjut menuju batas utara desa, lalu kembali ke pura puseh, berakhir pada pukul 15.00 wita, dilanjutkan dengan menghatur jamuan berupa banten berisi nasi dan daging ayam panggang di tiap pelinggih Ide Betara, hingga acara berakhir pukul 15.30 wita.

Keunikan ritual upacara "pebarisan usaba" ini seolah memberi makna bahwa selain ingat pada tuhan juga warga secara tulus iklas mengabdi/ngayah, mengorbankan diri yang disimbulkan dengan "ngurek/nguying" para wewalen, serta menjaga batas-batas desa dengan tertib sehingga menimbulkan rasa aman nyaman lingkungan desa dan memberikan kesejahteraan bagi warga Desa Nyuhtebel.


Oleh : nyuhtebel | 17 Februari 2017 | Dibaca : 248 Pengunjung


Artikel Lainnya :

Lihat Arsip Artikel Lainnya :