Logo

036341250

  • Om Swastyastu, Selamat Datang di Website Resmi Desa Nyuhtebel, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem
Jumat Pon
Profil

Sejarah Desa Nyuhtebel



Nama NYUHTEBEL telah dikenal sejak jaman Kerajaan Majapahit.  Nama NYUHTEBEL berasal dari kata Nyuh yang artinya kelapa dan tebel artinya lebat. Kata Nyuhtebel merupakan satu rangkaian  kata Nyuh dan tebel yang tidak dipisahkan yang berarti hamparan lahan atau hutan kelapa yang lebat.  Hutan kelapa yang lebat dan berbuah lebat menjadi cirri DESA NYUHTEBEL

Ada disebutkan di dalam Prasasti Kerajaan Gegel yang tersimpan di Jeroan I Gusti Mangku Geria di Desa Sidemen Karangasem yang isinya adalah: bahwa pada tahun caka 1382 atau (1460 M) Dalem Watur Enggong dinobatkan sebagai Raja Gelgel  di BALI,  dari Trah Kresna Kepakisan keturunan raja Majapahit, di mana lima tahun setelah penobatannya  yaitu tahun caka 1387 atau (1465 M) raja Dalem Batur Enggong memerintahkan  penyerangan ke Desa Tenganan dengan  pasukan perang  Depasek Bedolot dan pasukan perang Kiyai Agung Pasek Subadra  dibawah pimpinan langsung I Gusti Ngurah Sidiman (nama lain I Gusti Ngurah Kacangan) dari Desa Sidemen, dan serangan tersebut berhasil menumpas pasukan De Dukuh Mengku Tenganan karena menentang kekuasaan Gelgel.  Setelah De Dukuh Mengku Tenganan menyerah kalah maka prajurit De Dukuh Mengku Tenganan ditangkap dijadikan tahanan perang di desa Sidemen. Antek antek serta pengikut setia De Dukuh Mengku Tenganan juga kocar kacir melarikan diri meninggalkan desanya yang dilanda perang,   maka wilayah peperangan yang telah ditinggalkan tersebut menjadi rampasan perang dan selanjutnya tidak terurus sehingga menjadi hutan rimba yang dipenuhi oleh pohon kelapa. 

Pimpinan Pasukan perang kiyai agung padang subadra yang semula tinggal di Nyuhtebel dan kawin dengan Ni Luh Pasek dari Perasi setelah punya anak bernama Pasek Sadra pindah ke desa Kusamba. Pasukan perang Depasek Bedolot yang semula tinggal Di Nyuhtebel karena dikenal sakti oleh raja gelgel diperintahkan untuk mengendalikan keamanan di Tanah Seraya yang sedang mengalami pergolakan menentang kekuasaan gelgel akibat jatuhnya kerajaan Bedahulu oleh Kekuasaan Majapahit. Guna menghindari lahirnya kekuatan baru dari pengikut setia De Dukuh Mengku Tenganan untuk melawan kekuasaan gelgel di desa Tenganan maka pasukan Depasek bedolot menempatkan beberapa anggota pasukannya bersama bala bantuan pasukan dari tanah seraya membangun benteng pertahanan dan untuk pengawasan di wilayah bagian selatan Tenganan, dan sebagian pasukan lainnya mengendalikan keamanan tanah Seraya.  Benteng pengendali keamanan dan pengawasan di bagian selatan Tenganan tersebut terletak di Karanganyar (sebuah permukiman/karang yang baru).  Jadi dengan demikian kata “ Nyuhtebel, Tenganan, Kusamba, Seraya “ telah disebutkan di dalam prasasti tersebut.

Perkembangan selanjutnya, di wilayah bagian selatan Tenganan dari wilayah bekas kekuasaan De Dukuh Mengku Tenganan yang telah  menjadi rampasan perang terbentuk sebuah permukiman yang disebut  Karanganyar.  Komunitas Karanganyar ini terus berkembang sesuai perkembangan jaman dan telah memiliki awig awig desa Karanganyar dan Tauman Nyuhtebel berangka tahun 1725 Masehi.  Komunitas yang bermukim di lokasi ini ada membangun satu pura dadia atau pura paibon yang bernama Pura Dadia Gde Seraya.  Pura ini diempon oleh Trah Seraya berasal dari 3 pedukuhan di desa seraya yaitu pedukuhan Moding, pedukuhan Taman, dan pedukuhan Kaliasem. Selanjutnya dapat dibangun Pura Desa yang disebut dengan Pura  Maksan Nyuhtebel, selanjutnya pada tahun 1978 dipura maksan ini dibangun Balai Agung sehingga pura maksan berubah sebutan menjadi Pura Puseh.

Dalam perkembangan kekuasaan  kerajaan gelgel, mencapai puncak kejaan pada era pemerintahan Dalem Waturenggong Kresna Kepakisan.  Kekuasaan kerajaan gelgel waktu itu sampai ke Blambangan, Lombok Nusa Tenggara, kerajaan Sumbawa telah takluk kepada kerajaan gelgel.  Setelah Dalem Watur Enggong Kresna Kepakisan wafat pada tahun  1552 M, kepemimpinan dilanjutkan oleh putra sulungnya yang bergelar Dalem Bekung. Pada masa pemerintahan Dalem Bekung Kerajaan Gelgel mulai mengalami kemunduran akibat adanya perebutan kekuasaan dari dalam keluarga istana.

Selanjutnya DALEM BEKUNG digantikan oleh putranya yang bergelar  DALEM SAGENING pada tahun 1580 M. DALEM SAGENING merupakan seorang raja yang amat bijaksana, cerdas, berwibawa, berani. Dibawah kepemimpinan DALEM SAGENING  keamanan gelgel pulih kembali, begitu juga kekuasaan gelgel yang sempat lepas pada masa DALEM BEKUNG dapat direbut kembali dan tunduk kepada gelgel yaitu kerajaan Sumbawa, Sasak, Blambangan, Nusa Penida.  Penataan pemerintahan dilakukan melanjutkan apa yang telah ditata oleh almarhum Dalem Watur Enggong. Untuk menjaga kestabilan politik kerajaan gelgel, DALEM SAGENING menerapkan POLITIK KAWIN (poligami).  Dalem sagening memiliki banyak  permaisuri dan juga memiliki putra putra yang banyak jumlahnya.  Beliau mengangkat putra putranya sebagai anglurah di daerah daerah, antara lain: I DEWA ANOM PEMAHYUN, ditempatkan di desa sidemen (Singarsa) dengan jabatan anglurah pada tahun 1541 M dengan didampingi patih I Gusti Ngurah Sidemen Dimade dengan batas wilayah di sebelah timur sungai unda sampai sungai jangga dan batas utara sampai dengan ponjok batu.  Kyai Barak Panji, beribu dari Ni Pasek Panji, atas perintah dalem di tempatkan di den bukit sebagai penguasa di daerah itu didampingi oleh patih dari keturunan Kiyai Ularan, dia sebagai pendiri kerajaan Buleleng yang kemudian bernama I Gusti Panji Sakti.

Setelah DALEM SAGENING wafat pada tahun 1665 M, terjadi perpecahan di kerajaan gelgel karena perebutan kekuasaan diantara keluarga raja.  Akibat perpecahan di dalam kerajaan maka keamanan tidak dapat dikendalikan, dan istana mengalami penyerangan berkali-kali.  Situasi yang tidak terkendali itu memberikan peluang munculnya kerajaan kerajaan baru seperti: Kerajaan Karangasem, Sidemen, Taman Bali, Bangle, juga muncul kerajaan besar yang kuat yaitu: Buleleng, Badung Tabanan yang dipimpin oleh rajanya masing-masing.

Memasuki era keruntuhan kerajaan gegel dan timbulnya KERAJAAN KARANGASEM maka bali menjadi terbelah, pertempuran antar kerajaan terus terjadi. KERAJAAN KARANGASEM melakukan penataan pemerintahan, membangun kekuatan di desa desa, menyiapkan pasukan perang untuk memperluas kekuasaan.  Desa desa mulai di tata dan di bangun sebagai pusat pusat kekuatan.

Lebih lanjut disebutkan di dalam  buku BABAD PASEK dan PRASASTI IDA DALEM KLUNGKUNG bahwa  keturunan pasek bandesa di Banjar Pauman Desa Seraya menjadi pemimpin di banjar Karanganyar Desa Nyuhtebel. Awig Desa Nyuhtebel berangka tahun 1725 M ditemukan dengan judul Awig Awig Desa  Karanganyar dan Tauman Nyuhtebel. Awig awig ini dapat menjadi bukti bahwa Kerajaan Karangasem melakukan penataan terhadap desa desa diwilayah kekuasaan raja.  Disamping itu ditemukan juga bukti lain yaitu di Banjar Karanganyar dibangun Balai tempat persinggahan Raja Karangasem ketika turun kunjungan lapangan ke desa desa, dan Balai tersebut disebut ‘Bale Tegeh’

Memasuki abad 18, Bangsa Belanda  memperluas jajahannya sampai ke Bali. Pada akhir November 1894 Belanda telah berhasil mengalahkan perlawanan Bali termasuk Karangasem.  Gusti Gde Jelantik diangkat oleh Belanda sebagai Regent pada tahun 1894 dan memerintah hingga tahun 1908, selanjutnya digantikan oleh Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem (1908 – 1967). Pada tahun 1906 di Bali terdapat 3 macam bentuk pemerintahan yaitu: Pemerintahan langsung (rechtstreeks bestuurd gebied), pemerintahan sendiri (zelfbestuurd end landschappen), dan wakil pemerintahan Belanda (stedehouder) yaitu Gianyar dan Karangasem.

Pada tahun 1906 Gusti Gde Jelantik sebagai Regent Karangasem (wakil pemerintah Belanda) menunjuk I NENGAH MANGGA sebagai PERBEKEL DI DESA NYUHTEBEL periode pemerintahan 1906 – 1932. Pada masa pemerintahan Gusti Gde Jelantik, di Banjar Karanganyar Desa Nyuhtebel telah dibangun sebuah Balai Pertemuan untuk Raja yang disebut dengan Balai Tegeh(bukti sejarah). Balai Tegeh itu digunakan untuk rumah singgah pada saat raja berkunjung ke desa, dan juga tempat bersidang raja bersama pengikut pengikut setianya. Tempat dimana Balai Tegeh itu berada oleh orang lokal lebih dikenal dengan nama dibadane.  Pada tahun 1970 an masih banyak orang local menyebut tempat itu dibadane.  Disebut dibadane karena pada jaman itu ditempat itu juga dibangun kandang kuda yang banyak untuk menyediakan kuda tunggangan bagi raja bersama pengikut pengikutnya (bade = kandang, bahasa bali).

PERBEKEL I NENGAH MANGGA,  selanjutnya digantikan oleh anaknya bernama  I NENGAH REBONG sebagai PERBEKEL NYUHTEBEL pada periode pemerintahan 1932 – 1963.  Pada masa itu perbekelan Nyuhtebel meliputi wilayah desa adat Nyuhtebel, Pesedahan, dan Sengkidu. Memasuki tahun 1960 an, karangasem mengalami krisis yaitu terjadi kemarau panjang, selanjutnya disusul dengan gunung agung meletus tahun 1963, disusul lagi oleh ketegangan dan konflik partai politik hingga meletus G30S PKI/ gestok tahun 1965. Pada tahun  1963 ketegangan politik sangat panas PERBEKEL I NENGAH REBONG digantikan oleh I NYOMAN SUWECA (dari desa adat Pesedahan) sebagai PERBEKEL DESA NYUHTEBEL pada periode pemerintahan 1963 – 1993. Pada periode ini terjadi peralihan jaman pemerintahan yaitu jaman orde lama ke jaman orde baru dari pemerintahan Presiden Sukarno ke pemerintahan Presiden Suharto. Pada pemerintahan suharto keamanan negara sudah stabil, sehingga pembangunan desa nyuhtebel dapat berjalan lancar, juara juara yang dapat diraih oleh nyuhtebel meliputi .......,  

Pada masa orde baru yaitu tahun 1993 dilaksanakan pemilihan PERBEKEL NYUHTEBEL, dan terpilih I KETUT KATON sebagai PERBEKEL NYUHTEBEL periode pemerintahan 1993 – 2001. PERBEKEL I KETUT KATON adalah anak dari mantan Perbekel I Nengah Rebong dan Cucu dari  mantan Perbekel I Nengah Mangga.  Pada masa ini juga terjadi peralihan orde pemerintahan dari orde baru ke orde reformasi, dari pemerintahan Suharto ke Pemerintahan Habibi, GusDur, Megawati.  Pada masa ini terjadi ketegangan politik yang amat meluas dan krisis ekonomi berkepanjangan.  Yang paling parah terjadi pada masa ini adalah krisis kepercayaan, masyarakat tidak lagi punya panutan, tokoh tokoh masyarakat kehilangan pamornya, individualisme menguat, keadaan ini sangat besar berpengaruh terhadap perubahan karakter sosial masyarakat.  Konflik sosial terjadi di seluruh wilayah Nusantara, di Bali juga terjadi konflik antar desa adat. Di wilayah PERBEKELAN NYUHTEBEL juga terjadi pertikaian antara desa Adat Nyuhtebel, Pesedahan dan Sengkidu. Berita mengenai pertikaian antara Desa Adat Nyuhtebel dan Pesedahan meluas melalui media massa.  Melihat kondisi yang tidak kondusif ini  dan juga dilatar belakangi oleh jumlah penduduk yang sudah semakin banyak, tokoh tokoh masyarakat DESA NYUHTEBEL mengusulkan kepada Bupati untuk melakukan Pemekaran Desa Nyuhtebel.

Pada masa transisi pemerintahan desa Nyuhtebel yaitu pada tahun 2002 – 2008 DESA NYUHTEBEL tidak memiliki PERBEKEL.   Desa Nyuhtebel dipimpin oleh seorang penjabat perbekel merangkap sebagai sekretaris desa bernama I MADE RIYEM  dari Desa Adat Sengkidu.  Pada masa pemerintahan  PJ.Perbekel I Made Riyem  usulan pemekaran desa Nyuhtebel berdasarkan Keputusan Desa Nyuhtebel Nomor: 07 Tahun 1999 Tanggal 25 Juni mendapatkan tindak lanjut.   Surat Keputusan Bupati Karangasem tentang desa Sengkidu dan desa Pesedahan sebagai desa definitif baru dapat diterbit pada tanggal 12 Agustus  2008 setelah cukup lama terkatung katung.

Maka oleh karena itu pada tahun 2008 wilayah desa Pemerintahan Desa Nyuhtebel meliputi wilayah desa adat Nyuhtebel.  Pemilihan PerbekelNyuhtebel dilakukan pada tahun 2008, dan terpilih         I KETUT SASIH dari Banjar Tauman Nyuhtebel sebagai PERBEKEL NYUHTEBEL hingga berakhir masa jabatan tahun 2013.  Memasuki tahun 2014, pemerintah pusat mulai memberlakukan Undang Undang Desa No.6 tahun 2014. Maka pada masa transisi tersebut tahun 2014 – 2016 desa Nyuhtebel dipimpin oleh PJ. Perbekel I Ketut Mudra  29 April 2014 – April 2015, dilanjutkan oleh PJ.Perbekel I Wayan Suarna periode 29 April 2015 – 23 Juni 2016 dan digantikan oleh Perbekel baru hasil pemilihan berdasarkan undang undang desa 6/ 2014 yaitu I Ketut Mudra dari banjar Karanganyar Nyuhtebel.

Selama terjadinya transisi pemerintahan yang cukup sering dari tahun 2002 hingga 2016 pembangunan desa nyuhtebel tidak banyak mengalami kemajuan.  Kemajuan pembangunan desa yang telah dicapai di masa orde baru seolah terbenam. 

Secara administratif Desa Nyuhtebel dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah Banjar Dinas (BD) yaitu:  (1) BD.Karanganyar, (2) BD Tengah, dan (3) BD Tauman, Tiap BD dipimpin oleh Kelian Banjar Dinas (KBD) atau sebutan lain Perangkat Kewilayahan (PK).